Prometheus Pinball – Resensi oleh Gladhys Elliona

Saya pernah membaca puisi Afrizal Malna di beberapa kesempatan, bahkan pernah juga sekali melihatnya membacakan puisi hasil residensinya di Tubaba empat tahun lalu. Mbeling, tetapi liris. Bahkan baru-baru ini, sebuah meme sastra menggambarkan karya Afrizal sebagai “anak haram” dari puisi liris dan puisi karya Sutardji Calzoum Bachri. Saya bisa bilang, Afrizal dalam kumpulan puisi ini terasa berbeda dari buku-buku sebelumnya – yang lebih menggambarkan wonders and wandering dari imajinasi Afrizal.

Prometheus Pinball (RSP, 2020) menawarkan semacam dekonstruksi up-close and personal Afrizal Malna. Puisi yang disusun menjadi enam bab berdasarkan kurun waktu hidupnya di tiap dekade: 1957, 1967 (yang memiliki dua bagian), 1977, 1987, dan 1997; mengajak kita melihat character development Afrizal Malna, bahkan sejak ia masih orok. Ada tiga hal yang terpantik dalam diri saya ketika membaca kumpulan puisi Prometheus Pinball oleh Afrizal Malna. Pertama, bagaimana sejarah Jakarta 60 tahun terakhir diceritakan secara konstan dalam puisi-puisinya; kedua, tentang realitas seni pertunjukan, khususnya teater; dan yang terakhir adalah metapuisi dan puisi “autoetnografi” yang dilakukan oleh Afrizal.

Membaca Prometheus Pinball membuka kembali ingatan saya tentang Jakarta. Seperti Afrizal Malna, saya lahir dan besar di ibukota, namun saya “baru” lahir tahun 1994. Tahun saya lahir bahkan hanya sekelumit dari bagian akhir buku ini, namun bukan berarti saya tidak bisa mengerti apa yang diceritakan oleh Afrizal. Ia mencantumkan banyak sekali nama tempat yang saya datangi dan bahkan beberapa merupakan tepat saya beraktivitas sejak tahun 2006. Saya tahu, apa yang saya alami dengan tempat-tempat itu dengan apa yang Afrizal alami pasti jauh berbeda – mengingat konteks pembangunan yang terjadi jauh sebelum saya lahir dan saya sebagai generasi selanjutnya termasuk yang menikmati hasil saja.

Beberapa poin yang bisa kita lihat adalah penyebutan peristiwa bersejarah yang terjadi di Jakarta, Indonesia, dan berbagai negara pascakolonial. Afrizal juga menjabarkan tentang realitas hidup urban yang seperti tidak ada bedanya dari dulu hingga sekarang. Ia mendeskripsikan bagaimana rasanya tinggal di Jakarta yang sedang berkembang kala itu, khususnya di kampung kota. Ia juga melihat dirinya menjadi saksi berbagai peristiwa sejarah yang terjadi di Jakarta, misalnya Peristiwa Malari. Sejarah yang dikupas oleh Afrizal adalah yang ia saksikan dan ia pelajari, entah di saat dan di tempat itu juga atau mungkin ia membacanya saat dewasa – apapun itu, rasanya peristiwa sejarah yang mengubah hajat hidup orang banyak terasa dekat dengan pembaca. Seperti yang kutipan puisi “gerombolan mesin cacat” berikut: 

sekolah kami berdampingan dengan penjara

di sebelahnya. mahasiswa-mahasiswa 

yang ditangkap karena peristiwa malari, kadang 

ngobrol antar sesama halaman penjara yang 

kecil. mereka menggoda kami. membujuk 

melanjutkan sekolah di jurusan sosial-politik. apa 

itu sosial politik? akuntansi, ekonomi, kedokteran, 

teknik, psikologi, hukum, antropologi: nama-nama

yang menunggu di masa depan.

Dengan menuliskan puisi autobiografinya, Afrizal tidak hanya menjadikan Jakarta sebagai bagian dari sejarah hidupnya, tetapi ia juga menjadi bagian dari sejarah Jakarta itu sendiri.

Selain sejarah sosial politik, kita juga bisa melihat bagaimana perkembangan seni sebagai kritik. Kita bisa  membacanya dari penyebutan Taman Ismail Marzuki atau TIM di puisi-puisi Afrizal – jelas, TIM adalah bagian dari semua seniman yang pernah berkiprah di Jakarta, entah sebagai penonton, penampil, hingga peneliti. Afrizal melukiskan bagaimana TIM sebagai gelanggang seni yang para senimannya vokal atas perubahan sosial-politik berkembang di bab 1967 dan 1977 – di mana saya yakin, itu adalah salah satu masa gemilang pusat seni Jakarta ini.

Penyebutan penulis dalam sebuah puisi mungkin umum, namun seniman teater, lain soal. Afrizal mampu menceritakan peristiwa sejarah teater dan pertunjukan penting di Jakarta – menyebutkan nama punggawa seni pertunjukan Jakarta legendaris seperti Benyamin S., Dindon WS, Sardono, dan Rendra yang bahkan dicantumkan berkali-kali. Lainnya dikutip di beberapa puisi, salah satunya “workshop teater”:

di kawasan pasar tanah abang, menjelang sore.

anak-anak muda yang belajar teater melalui

kota. roedjito,pramana, putu wijaya, ikranegara 

merancang workshop antara teks ruang dan rupa.

Susunan kata dalam Prometheus Pinball layaknya sebuah monolog dan pertunjukan tertulis. Tidak hanya karena Afrizal menyebutkan apa yang ia alami dan ia temui selama berkesenian, tetapi ia menulis dengan gusto. Setiap cerita cinta, hingga penggambaran berbagai tempat di puisinya, seperti sedang mempersiapkan sebuah naskah, ambang antara realis dan surealis yang memang lebih baik dipanggungkan. Buku ini sebuah sajian teatrikal dalam bentuk puitis dan sebuah kumpulan puisi yang teatrikal. 

Menurut pembacaan saya, tulisan Afrizal yang terasa seperti autoetnografi sastrawi ini adalah bentuk dari metapuisi. Saya bilang autoetnografi karena, Afrizal kerap menceritakan hidupnya yang dekat kampung kota, hidupnya sebagai dan bersama masyarakat Jakarta Pusat, hingga narasi yang sangat detil dan deskriptif tentang apa yang terjadi jika kita tinggal di pusat kota besar yang tidak henti memperbarui diri. Bukan hanya saat ia menulis puisi tentang puisi di “orang-orang puisi” saja, tetapi juga proses penciptaan puisi yang ia lalui selama kurang lebih 40 tahun.

Bagaimana Afrizal menceritakan observasi, pengalaman hidup, dan evolusi teknologi yang mempengaruhi penciptaannya adalah bagian dari metapuisi. Puisi — yang saya tahu, biasanya adalah karya tulis yang bertumpu pada amatan di luar diri penulis, tapi Afrizal menjadikan amatan itu nampak seperti data. Ia dengan berani menceritakan apa yang ia alami selama menciptakan puisi maupun berkegiatan teater dalam bentuk memoir puitik (atau puisi memoir). Walau saya yakin, ia bukan orang pertama yang melakukannya, tetapi bagaimana ia dapat menulis cerita pribadi dan data penting yang terjadi di hidupnya memberi kesegaran bagi penulis puisi selanjutnya: bahwa puisi sebebas itu, semua kecemasan dan apa yang kita lihat bisa kita hancurkan dalam bait-bait.

Pertanyaan selanjutnya, jika memang buku ini memiliki muatan personal bagi Afrizal, bagaimana kemudian puisi-puisi ini dapat dinikmati pembaca yang tak pernah berada di Jakarta? Saya mungkin dapat dengan mudah beresonansi dengan puisi memoir Afrizal karena saya kenal dengan tempat yang dideskripsikan, tetapi bagaimana dengan yang tidak mengetahui Jakarta? Cukup sulit membayangkan jika saya menempatkan diri sebagai pembaca yang tidak pernah kenal dengan Jakarta — jika mau melihat tulisan ini sebagai puisi autobiografi, namun sangat terbuka kemungkinan bagi para pembaca di luar Jakarta untuk memiliki imajinasi atas tempat-tempat di Jakarta yang kerap dideskripsikan dalam buku ini. Bisa jadi di kepala mereka akan tumbuh stereotipe baru tentang Jakarta. Selain itu, beberapa puisi nampak sangat personal, seperti Afrizal sedang menelanjangi diri dan membiarkan dirinya terekspos oleh siapapun yang membaca. Mungkin ini juga mengapa buku ini diberi judul Prometheus Pinball. Afrizal menempatkan dirinya dalam buku ini sebagai individu terkekang yang rentan tapi waktu yang sama masih dapat menjalani hidup yang memberikan kejutan hingga berbagai kehancuran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s