Gesekan Kata

beberapa catatan idiosyncratic

oleh: Andy Fuller

“Aku menangis karena orang dewasa tidak mengerti apa-apa.”  

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, Di Tanah LadaJakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2022 (cetakan kelima), hlm 92. 

Saya selalu mengingat saat pertama kali saya membaca karya “Keroncong Pembunuhan” oleh Seno Gumira Ajidarma. Saya sedang berada di kamar tidur saya di sebuah rumah di Medan, pada tahun 2000. Cerpen itu, yang begitu, pendek, sederhana dan vivid memukau saya. Entah mengapa. Gaya bercerita Seno memberi gambaran yang tajam terhadap beberapa nuansa politik dan sosial. Beberapa tahun kemudian saya menulis disertasi saya tentang karyanya Seno. Lama kelamaan kami juga menjadi teman, walaupun tidak sering sekali berkomunikasi. (Saya maklum dia sibuk.) Tulisan dan karya Seno menjadi semacam ‘pemandu’ bagi saya untuk membaca bagian dunia ini yang dinamai ‘Indonesia’.  

Saya juga ingat pertama kali saya membaca karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie: saya berada di dalam sebuah taxi di Jl.Cikini Raya dan pada waktu itu saya sedang menuju ke café Bakoel Koffie untuk bertemunya. Agak mepet, memang, tapi saya berusaha secepat-cepatnya membaca awal dari buku Semua Ikan di Langit. Saya sudah bayangkan dia akan tanya apa saya telah baca bukunya atau tidak. Saya mempersiapkan bohongku, yang mungkin begini, ‘ya, saya sedang membacanya … sudah separuh’. Tapi, saat ketemu langsung dengan Ziggy, yang lagi asyik menulis di laptop saat saya tiba di kafe tersebut, saya tak ditanyai begitu. Obrolan kami berjalan lancar dan kami berbagi cerita kami masing-masing sebagai pembaca: siapa yang kami menikmati membaca. Dia sebut Neil Gaiman, saya sebut Kurt Vonnegut, dia ketawa. Dan selanjutnya. Dari beberapa kalimat pertama buku Semua Ikan di Langit, saya sudah langsung menyukainya. Dan, dalam soal sastra, saya selalu mengikuti hati-nurani saya. Saat membaca sebuah buku untuk pertama kali, saya tidak mau bersikap terlalu kritis. Suka, lanjut. Kalau nggak suka atau bosan; berhenti. 

Di antara dua penulis ini ada seorang Afrizal Malna. Saya bertemu untuk pertama kali di lapangan parkir TIM. Sekarang, TIM berbentuk baru; sudah direnovasi dan pegawai budaya sudah disediakan fasilitas yang lebih bermartabat. Di tempat parkir, kami menjabat tangan dan Afrizal tersenyum. Sebuah senyum, yang mungkin hanya berlangsun sekilas, tapi penuh kehangatan. Mungkin aku jatuh cinta dengan dia pada saat itu. Nama ‘Afrizal Malna’, pada waktu itu, sudah cukup legendaris, sebagai tokoh dan sebagai penyair. Apa peduli dia dengan seorang asing, yang tiba-tiba nongol di depannya dan menyapanya. Lama kelamaan saya menerjemahkan karya dia sebagai Anxiety Myths (Lontar, 2012; terima kasih kepada orang tuaku, yang kasih sumbangan kepada Lontar untuk mendanai penerbitannya) dan ikut menerjemahkan  Morning Slanting to the Right (RSP, 2021; dengan sedikit dana dari LitRI yang sekarang sudah menjadi sebagian dari puing-puing pendanaan sastra). Lebih memuaskan lagi, sebagai salah satu pendiri penerbit RSP (bersama partner saya Nuraini Juliastuti), kami menerbit Document Shredding Museum (trans. Daniel Owen, 2019) dan buku Afrizal dalam Bahasa Indonesia, Prometheus Pinball (2021). Promotheus Pinball dapat pengakuan dari majalah Tempo sebagai salah satu buku terbaik pada tahun itu. 

Saya tidak pernah memiliki cita-cita menjadi seorang penerjemah andalan. Pasti banyak sekali yang lebih berbakat. Bagi saya, tugas penerjemahan adalah sebagian dari proses menikmati membaca karya fiksi atau non-fiksi dan meniliti sesuatu. Dalam proses penelitian, saya sering menerjemahkan tulisan fiksi dan non-fiksi, kalaupun itu ditulis oleh ‘penulis sastra’ atau orang yang tidak menyebut diri sendiri sebagai ‘penulis’. Tentu saja, cerita yang menarik, atau dengan kata lain, ‘menarik perhatian kami ke arah lain’, sering tidak berasal dari penulis sastra. Karya sastra tidak memiliki semacam monopoli atas narasi atau cerita yang patut dibaca, diberi perhatian ataupun, kalau ada penerjemah, diterjemahkan. Narasi membantu kami memahami bagian kecil dari dunia ini; mengingat sesuatu, mendambakan sesuatu, dan sering mengajak kita untuk bersikap kritis pada pelbagai macam atau jenis kekuasaan. 

Dari tiga penulis yang saya sebut di atas, karya masing-masing memandu saya ke ranah yang berbeda-beda. Seno menjadi pemandu saya untuk memahami sikap kritis pada politiknya Order Baru. Dari karya dia saya bisa melacak atau mengeksplorasi hal semacam pembunuhan misterius, kekerasan negara terhadap rakyatnya sendiri (di Aceh, Timor Timur dll), apalagi Seno sendiri bersikap kritis terhadap rezim Orde Baru, tapi juga euforianya reformasi yang memang tidak menuai semua impiannya. Tapi karya Seno bagiku, tidak berakhir pada cara saya memandang ‘sesuatu Indonesia’ (kata Afrizal); tapi karynya membantu saya membaca ‘negara saya’ yang diberi nama ‘Australia’. 

Saya berasal dari sebuah negara yang Colonial Settler. Para Penjajah datang ke benua Australia dan tidak pernah meninggalkannya. Bahasanya menjadi hegemonic; budayanya menjadi oppressive. Orang Berkebangsaan Pertama (First Nations People) tidak pernah menyerahkan negara-negaranya kepada para pendatang ini. Negara ‘Australia’ didirikan atasa perampasan hak Orang Asli dan negara ini didirikan atas berbagai kebohongan yang lain. Walaupun, negara Australia memang tidak sendiri dalam hal ini, itulah urusan lain. Dengan landasan kebohongan ini, memang tidak mungkin ada sikap yang terbuka, kritis dan dewasa terhadap sejarah benua itu ataupun ke negara-negara berdekatan. Makanya, colonial gaze dan segala jenis Pratik colonial lain masih dominan. Sebagai orang keturunan settler saya juga dibesarkan dalam lingkungan ini. Pada trajectory academic saya, saya juga sering sering bertemu dengan orang yang bertanya begini: “apa yang spesifik dari Indonesia dalam penelitian ini?” Seingat saya pertanyaannya, dalam Bahasa Indonesia begini: What is so Indonesian about this research? Indonesia diposisikan sebagai sesuatu yang sangat terpisah dari bagian dunia lain. Seolah-olah penelitian harus menemukan sesuatu yang benar-benar ‘bernuansa’ Indonesia. 

Karya Afrizal beranjak dari titik awal yang berlainan dengan karya Seno. Buku-buku Afrizal mengajak kita untuk merasakan dengan segala ‘kemampuan sensibilitas’ kita; untuk merasakan apa itu ‘urban’; untuk mengerti bagaimana kota telah menjadi sebagian dari tubuh kami dan sebaliknya juga. Bagaimana, Bahasa Indonesia memisahkan kita masing-masing dari bahasa dan ingatan. Dan sekaligus Bahasa Indonesia ini berperan juga dalam penciptaan dan pemaknaan pengalaman kita dengan dunia urban yang kita jelajahi sehari-hari. Karya Afrizal begitu sensitive, atau memberi perhatian khusus pada barang, tekstur, bau, tubuh dan perkotaan. Karya dia sering terasa terisolasi dari kenyataan tapi juga lahir dan hidup di dalam ke-terisolasi-ian itu.  

Karya Ziggy membuka dunia sastra baru bagi saya sendiri. Sebagai pembaca, saya tidak pernah terbawa ke dunia yang diciptakan oleh Ziggy. Mungkin pembaca lain sudah membaca karya ‘seperti’ karya Ziggy sebelumnya. Tapi, bagi saya, tidak ada ‘seperti karya Ziggy’: bagi saya, karya dia adalah sesuatu yang total baru; total asli (walaupun aku tahu hal ini nggak mungkin). Saat saya membacanya, saya merasa terbawa ke dunia baru. Bukunya benar-benar berperan sebagai alat untuk berkelana dalam imajinasi. Saya pernah bicarakan karya Ziggy dengan beberapa ‘peneliti popular culture Indonesia’ yang bekerja di Australia. Mungkin saya tidak usah sebut nama mereka karena mereka bicara dengan saya secara santai dan off the record. Tapi saat-saat ini memang sangat memberi kami semacam insight pada cara pandangan seseorang. Dua-duanya mengambil sikap yang condescending. Ahli #1: “karya dia tidak begitu istimewa. Biasa-biasa saja. Ho-hum.” Ahli #2: “Does the book have anything specifically about Indonesia in it?” So-called Ahli (orangnya sudah jadi professor) Nomor 1 membuat saya sebal karena dia bisa melihat betapa saya bersemangat untuk karya Ziggy. Apa maksudnya untuk merendahkan karya Ziggy, kalau orang lain ini sedang nge-fans pada karya Ziggy? Ahli #2, yang menduduki posisi mapan di Universitas Melbourne, ternyata hanya tertarik pada karya ‘sastra Indonesia’ yang membawa ‘ke-Indonesia-an’ secara ‘eksplisit’ ke dalam teksnya. Kayaknya seorang penulis yang lahir dan dibesar di Indonesia (di Lampung dan Jakarta) masih kurang ‘Indonesian’ bagi peneliti, yang kebetulan seorang yang bukan orang Indonesia [laughing emoji] . Kedua orang ini tampak begitu tidak penasaran, begitu tidak terbuka pada penulis baru. 

Dan sentiment kedua orang ini mengingat saya pada sebuah kutipan yang sangat offensive dari John McGlynn (sama saja dengan Lontar): “publishers aren’t looking for you, they’re looking for Indonesia.” Bagi saya, kutipan John McGlynn ini, adalah versi yang lebih kasar daripada sentimen orang ‘ahli’ lain yang saya ceritakan di atas. Saya sebagai peneliti wacana dan budaya urban; sebagai orang yang pernah menerjemahkan karya yang ditulis dalam Bahasa Indonesia dan sebagai orang yang pernah buka penerbit kecil (dalam arti, belum mampu menjadi besar), tidak merasa begitu. Peran saya memang tidak penting. Saya hanya seorang asing yang sebetulnya kurang lama tinggal di Indonesia. Tapi saya melihatnya begini: yang penting bagi saya bukan Indonesian-ness seseorang. Karena memang peneliti, penerbit dan penerjemah tidak berhak untuk menentukan atau membingkai atau memberi definisi yang jelas dari arti kata itu. Saya memang mencari suara yang berbeda dan tersendiri – sekaligus ‘suara baru’ juga muncul dari sebuah konteks dan ecosystem yang luas. Saya hanya pernah membaca sedikit sekali dari apa yang disebut ‘sastra Indonesia’. Dan saya semakin sadar bagaimana saya semakin tidak peduli dengan istilah itu. Penulis yang lahir entah di mana di Indonesia memang tidak bisa dibatasi oleh berbagai macam alat klasifikasi yang membuat karya mereka lebih gampang terjual di pasar. 

Andy Fuller mendirikan Reading Sideways Press dengan Nuraini Juliastuti dan bekerja di Utrecht University sebagai  postdoctoral fellow di bidang Cultural Anthropology. Alamat emailnya: a.c.s.fuller@uu.nl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s