Making garlic bread with Cahaya

Cahaya and I like cooking together in the kitchen. Or actually, it is me who likes cooking together with Cahaya. But Cahaya always enjoys our cooking session. I started baking cakes with Cahaya since she was two years old. Perhaps the idea of the comfort baking has grown on her. We often have different ideas of what to cook in the kitchen. Last month, we made garlic bread. This was my idea. I had always wanted to make tear n’ share garlic bread that I saw on Jamie Oliver’s website. I knew Cahaya loves garlic bread. She was enthusiastic when I told her the idea.

Cahaya tried kneading the garlic bread dough. It was probably the fun, and messiest, part of the process.
We had to let the dough to rest for 1 hour. It was a long time to wait, but I told Cahaya that we had to be patient otherwise we would not be able to form the dough into little bread balls. It was great to see the dough slowly raising into a big shape of a balloon.
When the dough was ready, we made 35 little balls, and arranged them on the tray. The recipe involves a large amount of butter and garlic. We needed to grease the tray, then carefully put the balls on it. We put the balls in rows. I like the idea that Cahaya also learnt to do multiplication this way.
The next step was to let the little balls prove again for 1 hour and 30 minutes until it doubled the size. This was my first time making bread-kind of cooking as well. Seeing the dough risen is like magic; the magic mixture of flour, water, and yeast.
We put the dough into the oven for about 30 minutes. They looked golden and smelt delicious.
Cahaya suggested to eat the garlic bread into little sandwiches. We stuffed the sandwich with lettuce, ham, and tomato sauce.

Whither the Band or Drummer as an App

Jonno is moving to Sydney. He’s got a new and better job and he likes Sydney with all that harbour and water everywhere. Goodbye Gardners Creek, Eric Raven Reserve, the Malvern Fences, the South Eastern Arterial, Glen Iris train station and other suburban highlights. Hello beaches, ferries, tourists, concerts at the Opera House, John Laws, cricket captains, two varieties of Rugby and ocean pools.


Messy Band SetupSince February 2020 we have been jamming on Saturday mornings at my place. There is room and we can leave equipment set up. My place is roughly equidistant from Jonno’s in Glen Iris and Chris’s Elsternwick. Jonno left his spare keyboard here and Chris leaves his amp here. We don’t need much space to jam in, but, all the faffing about with cables and plugs and adapters etc at the start of every jam is a bit of a weekly palaver and cuts into precious playing time. These Saturday morning jams are an alternative to the Thursday nights at Kindred: Jonno and I used to have to battle traffic and Chris had already had a long day at work and was probably itching to go home rather than have a casually structured jam. Before we start the jam, we have coffee and chit chat and sometimes chocolate.


The Billy Pilgrims-2We’ve got better with the routine. We listen more closely to each other and play with an awareness of what the others are doing. I have started recording our little jams. The purpose of this is more than just narcissism, methinks (or, rather mehopes). Watching the videos provides an opportunity to critically evaluate our own style and to get a better idea of what we sound like in general.


But the propensity to record and upload to YouTube is also related to how I have been learning the bass (in part). I’ve watched my fair share of videos by Scott Devine (in the beginning), Tom Kenrick, Tom Bornermann, Benny the Bassman and also drumming videos by Yoyoka. I enjoy Yoyoka’s videos for the joy she plays the drums with and probably she inspired me to start enjoying the Red Hot Chili Peppers again. The videos I upload are plain and simple and will not go viral. We are not showing off virtuosity. The videos are a means to share with others what we have been doing during our often talked about jams.


Bellman-1Here are our videos: Domination (Version 1) and Domination (Version 2) (by Christopher Young), Soul to Squeeze (RHCP) and Snow (RHCP). The videos are in chronological order and hopefully show an upwards trajectory. In the moments after uploading Snow, I realised I was playing the bridge incorrectly. In real life, Jonno had picked it up that I was playing a note that was clashing with what he and Chris was playing.


Playing with the original tracks is a bit of a lazy crutch, but, it fills in the missing parts to the song and provides us with structure. We don’t have a drummer and haven’t been looking hard for one. For the moment, the android app, Loopz, will suffice.


Learning music is pretty abstract. The videos are in some way part of the process of making the learning process feel more real. Playing in this little band has helped my learning of music and this is thanks to our already existing friendships. But the band has actually varied our way of communicating with each other and has built up trust between us. Those so-called life-skills are some of the reasons why children are encouraged to learn music. But, I’m quite sure they are applicable to adults as well.


Jonno is moving to Sydney. The band, which I have nominally called The Billy Pilgrims (after the narrator of Kurt Vonnegut’s novel Slaughterhouse 5), will re-band itself or whither. I’m proposing we find an actual human drummer, so when Jonno visits he won’t find anyone sitting in his spot. Jonno is the most theoretically sound and thoroughly trained of us. He provides the guidance of what Chris and I should be playing when we get lost. Jonno is also not dogmatic about which songs we should play. For me, he has played a key role in my idiosyncratic and informal music education. Without Jonno we’re just a duo with a drum loop app. But, we’ll see how we go.

Minum kopi sebagai praktik mencuri waktu jeda bagi perempuan

Nuraini Juliastuti

Setiap kali minum kopi, saya selalu ingat dua hal. Pertama, ngopi adalah budaya baru dalam kehidupan sehari-hari saya. Kedua, kopi dan ngopi adalah materi dan praktik yang dikenalkan oleh Nenek dan Ibu. Sebagai budaya baru, saya selalu memandang minum kopi lebih dari sekedar minum kopi. Ia adalah sesuatu yang lain, yang akhirnya saya perlukan untuk mencapai sesuatu yang lain lagi. Dalam kasus saya, meminum kopi tidak muncul karena kebutuhan jasmani. Awalnya tubuh saya tidak membutuhkan kopi. Kebutuhan akan kopi muncul karena saya membudayakan minum kopi. Makna budaya, mengikuti Raymond Williams, adalah sesuatu yang bisa lahir karena kebiasaan yang dilatihkan dan dilakukan secara terus menerus. Tetapi kopi dan minum kopi juga bagian dari kenangan saya atas Nenek dan Ibu. Ia tinggal kenangan karena mereka berdua sudah tidak ada lagi bersama kita di sini. Minum kopi mungkin juga adalah kebiasaan yang saya tiru dari Nenek dan Ibu. Saya berpikir tentang makna kata ‘kopi’ yang terdengar seperti terjemahan Bahasa Indonesia atas kata Bahasa Inggris ‘copy’ yang berarti meniru. Kopi adalah minuman sehari-hari bagi perempuan-perempuan kuat di kehidupan saya. 

Pandangan saya atas praktik minum kopi sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar konsumsi kopi, bercampur dengan kenangan dan bagaimana dua perempuan dalam kehidupan saya tersebut menjalankannya dan memasukkannya dalam keseharian hidup mereka. Selanjutnya, minum kopi menjadi bagian dari amatan dan refleksi atas bagaimana meracik kopi dijalankan di keluarga saya (juga keluarga Andy) dan minum kopi berkembang dan ikut terjalin dalam irama kehidupan yang selalu dinamis.

Saya mulai minum kopi, dan selalu Cappucino, saat melanjutkan S2 di Amsterdam di 2007. Acara minum kopi biasanya selalu disertai dengan berbincang bersama teman, atau mengerjakan tugas-tugas kuliah. Di periode awal pertemuan saya dengan kopi, saya tidak pernah minum kopi di rumah. Ia selalu dilakukan di kafe. Minum kopi identik dengan keluar rumah. Mungkin karena lahir dalam kondisi di perantauan, minum kopi seperti keluar dari paksaan untuk menemukan cara baru dalam bekerja, meninggalkan cara dan ruang lama yang biasa. Pergi ke kafe dan minum kopi adalah cara baru yang secara sengaja saya kembangkan untuk mendapatkan waktu untuk belajar dan menyenangkan diri sendiri. Dalam kasus saya, menyenangkan diri sendiri merupakan identifikasi tepat untuk minum kopi. Ia adalah sesuatu yang rekreasional. Terlebih karena awalnya saya tidak pernah, bahkan tidak pernah terpikir untuk, membuat kopi sendiri.

Salah satu suasana minum kopi — minum kopi sambil menemani Cahaya menggambar. 

Meskipun kopi adalah minuman yang biasa di rumah saya, karena ia adalah minuman sehari-hari Nenek dan Ibu, saya tidak pernah tertarik ikut meminumnya. Saat itu rasanya kopi kurang menarik. Mungkin saya terpengaruh dengan tekanan teman sebaya yang umumnya berpendapat bahwa “kopi adalah minuman orang tua”; sesuatu yang ada benarnya mengingat di rumah saya, kopi adalah minuman orang tua. Kecuali bahwa dalam perbincangan anak muda saat itu, kopi dibicarakan sebagai minuman yang biasanya diminum oleh orang tua, dan meminumnya akan beresiko membuat kita tampak tua. 

Minuman yang mewarnai masa remaja dan kuliah adalah coca cola dan es teh tawar. Dalam kepala saya saat itu, minum kopi juga identik dengan minuman para bapak. Ini mungkin adalah pandangan yang salah, tetapi terasa sah, terutama dengan bekal pengalaman menyaksikan bagaimana para tetangga (para bapak) nongkrong di warung kopi di dekan gang rumah tiap pagi, siang, sore, atau malam. Bapak saya, tentu saja, adalah salah satu dari sekian banyak para bapak di kampung dimana saya tumbuh, yang aktif nongkrong di warung depan gang rumah. Betapa anehnya, sekarang baru saya berpikir demikian, bahwa saya tidak pernah merujuk Bapak sebagai seseorang yang punya pengaruh dalam tradisi minum kopi dalam kehidupan saya. Apakah hal ini karena saya tidak pernah melihat Bapak minum kopi di rumah? Untuk sementara saya akan bertahan dengan teori bikinan saya itu. Minum kopi bagi Bapak mungkin adalah praktik yang terhubung dengang nongkrong dan berbincang bersama para tetangga dan sahabat di kampung. Suatu elemen yang nantinya saya adopsi dalam praktik minum kopi dalam kehidupan saya yang dewasa. 

Nenek dan Ibu tidak pernah minum kopi di luar rumah. Peristiwa minum kopi bagi mereka dibatasi oleh ruang domestik — rumah dan ruang-ruang kecil lain didalamnya. Saya mengingat Nenek yang minum kopi di meja kecil dekat dapur, sambil mendengarkan radio yang memutar siaran dangdut dari Radio Rajawali. Saya mengingat Ibu yang minum kopi sambil duduk di lantai ruang tamu, sambil menonton sinetron entah apa di televisi. Keduanya tampak selalu minum kopi sambil mengerjakan sesuatu, disela-sela mengerjakan sesuatu, atau menuju mengerjakan aktivitas lain. Nenek minum kopi sambil melipat aneka plastik belanjaan dalam bentuk segitiga-segitiga kecil, lalu menatanya dengan rapi dalam kotak. Lain waktu ia tampak sedang minum kopi sambil membongkar aneka kotak kardus bekas, melipatnya jadi datar, dan menata di lemari sebagai persediaan jika diperlukan. Ibu selalu minum kopi sambil berkoordinasi tentang aneka kegiatan terkait bisnis katering dengan para pegawai. Sejak memasuki masa pensiun sebagai kepala sekolah di 2009, Ibu memilih fokus dengan mengelola bisnis katering. Ia minum kopi sambil menulis daftar belanjaan panjang dan mengatur pengiriman pesanan makanan ke para pelanggan. Yang paling sering dilakukannya, dan paling sering saya pikirkan saat ini terutama setelah Ibu meninggal, adalah bahwa Ibu minum kopi untuk membuatnya terjaga, tidak tidur, disela-sela membuat pesanan ratusan kue lumpur (dengan kismis dan kelapa diatasnya), bikang, atau semar mendem. 

Satu hal yang saya perhatikan adalah durasi waktu minum kopi mereka tidak pernah terlalu panjang. Minum kopi adalah aktivitas yang selalu berada disela-sela pekerjaan. Ia seperti waktu jeda, yang dalam kasus Nenek dan Ibu, ketersediaannya bergantung dari kemampuan untuk mencurinya, membuatnya ada dalam suatu hari. Lebih jauh dari itu, ia juga bergantung dari kemampuan untuk mengusahakan asupan kopi tersedia. Dengan alasan praktis, mengingat Ibu adalah seseorang yang efisien, ia selalu membeli kopi sachet dari warung atau supermarket. Ia paham bahwa kopi yang dibelinya mungkin kurang otentik. Tapi Ibu, seperti kebanyakan perempuan lain yang bekerja, selalu merasa kekurangan waktu. Menyeduh kopi sachet adalah jawaban untuk keinginan minum kopi disela kesibukan. Nenek selalu membuat kopi sendiri. Ia punya racikan kopi khusus dengan campuran irisan kelapa tua. Suatu hari nanti saya akan meniru racikan kopinya di rumah. Salah satu bayangan kenangan saya atas Nenek adalah punggungnya yang membelakangi saya, menumbuk kopi dengan tekun di dapur rumah kami yang sempit. 

Bertahun-tahun kemudian, di ruang tunggu kelas balet dan gimnastik di area Kew, Melbourne, saya duduk bersama para orang tua lain yang sedang menunggu anak-anak kami berlatih. Saya mendengar percakapan dua orang perempuan tentang minum kopi. Mereka asyik berbincang sambil minum kopi. Anak-anak mereka yang tidak ikut kelas balet sedang bermain diantara kaki-kaki mereka. Keduanya mempunyai tiga anak. Mereka berbicara tentang bagaimana mereka menantikan waktu bekerja mereka — mereka bekerja sehari sekali dalam seminggu — dan terutama waktu untuk minum kopi. Bekerja sehari seminggu, juga ngopi, semacam pelepasan sesaat, waktu jeda dari kesibukan mengurus anak dan urusan rumah. Saya terus mengingat apa yang dibicarakan kedua perempuan ini. Tiap kali mengingatnya, saya ingat kembali adegan Ibu minum kopi di depan layar televisi, sambil berpikir, dan menulis catatan, juga punggung Nenek yang membungkuk, menumbuk kopi di dapur. 

Interview at Bunjil Place Library

Scott Pearce spoke about his debut novel, faded yellow by the winter, in a conversation we held at Bunjil Place Library in Narre Warren. During the conversation he outlined his process as a writer and his methods of developing a narrative and characterisation.

He also spoke about his conflicted pleasures in enjoying Australian Rules football, his engagement with the mythology of the game, toxic masculinity and the meanings of footy clubs to small towns.

Thank you to Sam Benton of Bunjil Place for facilitating the event.

The book is available for order, here.

Support Our Work

Support Us

“From little things, big things grow”, Kev Carmody. We are a small publishing house, aiming to become sustainable and produce a few books each year. If you like what we’re on about, it would be great if you could make a small donation. Financial contributions help us cover our daily running costs: paying graphic designers, postage, membership to professional associations, printing books. All donators will be acknowledged in a forthcoming publication. If you are interested in making a donation, let us know and we can provide further information about how we operate and what we seek to achieve with Reading Sideways Press.